""

Tanaman Toga Mamak

oleh | Apr 5, 2019 | CERPEN, PROFIL, SASTRA | 0 Komentar

OLEH : EKA YULIANA LESTARI

Kisah ini terjadi sekitar 15 tahun lalu saat aku duduk dibangku SD kelas 3. Kini aku mengenangnya sebagai ingatan berharga. Aku sangat bersyukur, terlahir dari keluarga sederhana yang hebat. Saat itu, usiaku 8 tahun. 8 tahun pula usia kehidupan ayah ibuku menjadi keluarga transmigran di pedalaman Kalimantan Tengah. Kami ber-empat (bersama adikku yang usianya 3 tahun) sehari-hari menjalani hidup dengan bergantung pada PT. HSL sebagai pekerja paruh waktu dimasa kepemimpinan Presiden Megawati dengan penghasilan tidak seberapa. Gajian bapakpun dapat dikatakan hanya pas untuk mencukupi kebutuhan susu adikku. Beruntungnya, kami tidak pernah kekurangan. Entahlah, mungkin tetap kekurangan atau aku tidak begitu merasakannya karena waktu itu aku masih kecil, sedangkan yang kutahu hanyalah sekolah, bermain, ngaji TPQ, merusuhi adikku, serta mengganggu ibuku.

Ketahuilah kawan, ibuku sungguh ibu yang luar biasa, dan ini berlaku untuk seluruh ibu di dunia ini. Biar kuceritakan kegiatannya sehari-hari. Keluarga kami punya pekarangan rumah yang hampir seluruh sudut lahanya tidak ada yang sepi dari tetumbuhan. Ibuku sangat hebat dalam bercocok tanam. Ibuku menyulap secuil tanah kering tandus Kalimantan yang kami miliki menjadi pertambangan emas tak terbatas. Termasuk didalamnya tanaman toga (tanaman obat- obatan keluarga).

Di lahan toga, ibu menanam tanaman yang berkhasiat sebagai obat maupun bumbu penyedap, seperti kumis kucing, daun kelor, kunyit, laos, temulawak, daun serai, daun seledri, dan kawan-kawannya. Ibu merawatnya dengan baik dan sangat telaten. Alhasil, toga tesebut lahir dan tumbuh subur meski intensitas curah hujan di daerahku tergolong sedikit. Disamping lahan toga, ibu juga menanam sayuran seperti kacang panjang, mentimun, cabai, tomat, pare, terong dan lain-lain. Di deretan halaman depan, ibu juga menanam berjenis-jenis bunga. Ibuku sungguh pandai bercocok tanam. Semua tanamannya terawat dengan baik tanpa kekurangan suatu apapun. Alhamdulillah hasil panenan sayur dapat pula dinikmati oleh tetangga transmigran di sekitar rumahku. Bude sutinah, tetangga samping rumah yang berasal dari banyumas bahkan sering membantu ibu menengok tanaman, sambil memeriksa barangkali ada yang bisa dipanen dan bisa dijadikan menu masakan hari itu, atau membagikannya ke para tetangga lain jika jumlahnya banyak. Setiap panen ibuku menawarkan kepada para tetangga yang barangkali membutuhkan. Iya, Ibu tidak pernah menjual sayuran hasil panenannya.

Pernah kutanyai, mengapa ibu berbuat demikian? ia malah menjelaskan bahwa: ” Ibu sudah jatuh cinta nak, tidak ingin apa-apa” selorohnya. Sedangkan aku tak paham apa maksudnya.

Ibuku mencintai kegiatannya bercocok tanam. Ibu mensyukuri tanaman yang tumbuh subur dengan membagikannya kepada tetangga. Ibuku berterima kasih kepada Allah karena lantaran tanaman toga, telah beberapa kali, kami (aku-adikku-bapak) dan tetangga yang sakit dapat disembuhkan. Banyak orang datang kerumah kami, beberapa dari mereka datang untuk meminta secuil lengkuas sebagai pelengkap bumbu masak atau terburu-buru datang hanya karena anaknya demam tinggi untuk meminta daun dadap sebagai pengobatan. Disitulah letak kecintaan ibu kepada hobinya, ibu senang bisa membantu banyak keluarga. Ibu pernah bilang, mencintai itu memberi, berkorban dengan senang hati, dan menyerahkan tanpa merasa kehilangan. Tak jarang rumah kecil kami ramai dikunjungi ibu-ibu lain sebayanya sembari menunggu suami mereka pulang bekerja dari PT. Dan hingga pada suatu hari, kabar tanaman toga ibu sampai ke telinga bapak kepala desa, pak Sutino, kala itu tahun 2004.

Didaerah kami waktu itu, belum ada PLN. Lampu penerangan paling berharga hanyalah

lampu petromak.Bapakku punya satu.

Aku juga punya rutinitas setiap sore sepulang dari TPQ, yaitu membersihkan kaca

lampu teplok (lampu senthir kecil) agar malamnya dapat digunakan maksimal. Lampu petromak bapak hanya dinyalakan saat ada acara besar. Biasanya dipinjam untuk acara yasinan, tahlilan, pengajian, kumpulan karang taruna atau remaja masjid. Pada setiap jam belajarku; bakda isya’, bapak selalu menyalakan lampu petromak untukku, kata beliau, belajar adalah acara besar.

Aku harus pintar, agar besar nanti tidak rekoso seperti bapak, pesannya. Belakangan, baru aku tahu maksudnya.

Pada suatu malam, ibu dan bapak dipanggil ke rumah pak lurah. Aku tidak jadi belajar, karena lampu petromak dimatikan bapak, dan aku bersama adikku dititipkan dirumah tetangga. Pagi harinya, ibuku sibuk menata beberapa buku tebal pemberian pak lurah tadi malam. Kutanyai, kenapa ibu belajar? apa ibu akan sekolah sepertiku? Berarti beli seragam juga?. Ibu malah menjawab dengan tawa terkekeh: “Tidak, ibuk mau meminta uang kepada pak presiden agar desa kita diberi saluran listrik PLN, agar ketika kamu bangun tidur, setiap paginya ndak perlu lagi membersihkan hidung yang menghitam karena angus lampu senthir”. Aku semakin tak paham.

Ternyata ibu mendapat mandat dari pak lurah untuk mewakili desa bukit Sungkai; desa kami, dalam kegiatan lomba program Keluarga Berencana tingkat kabupaten, bersaing dengan

35 desa lain yang hadiah utamanya adalah bantuan PLN desa. Tak banyak yang kuingat, tapi setelah melewati perjuangan dan perjalanan panjang, termasuk saat gubuk kami kedatangan petugas kabupaten untuk ditinjau keadaan jamban rumahnya, keharmonisan keluarganya, ke- asri-an halaman rumahnya, wawancara dengan beberapa tetangga, serta beberapa tes akademik lain, sampai pada kekaguman mereka tehadap kebun ibuku, alhasil keluarga kami menang juara 2. Desa kami tidak jadi mendapatkan penerangan PLN, tetapi mendapat bantuan perbaikan jalan yang semula latrit menjadi semi aspal sampai ketempat yang paling pelosok. Pak lurah sangat berterimakasih kepada ibu, bapakku semakin bersyukur, semua warga membicarakan kehebatan ibu, dan cita-citaku yang seketika berubah ingin menjadi pekebun handal seperti ibu.

Sekarang, sudah 2019. Ibuku sudah pindah rumah, piala pemberian pak lurah sudah patah, tanaman toga sudah tiada, tinggal tanah tandus. Bahkan rumput liar pun tidak dapat tumbuh, saking tandusnya. Ibu sudah berkeluarga lagi karena beberapa alasan yang tidak kumengerti. Aku tidak jadi melanjutkan cita-citaku menjadi pekebun handal, malah kuliah jurusan manajemen ekonomi yang entah mau kemana mengaplikasikan ilmunya. Kebun sayuran ibu juga sudah lama sekali tidak kuketahui perkembangannya, karena selepas SMP aku dan adikku pergi ke jawa untuk menimba ilmu di salah satu pesantren. Sesekali aku pulang ke gubuk kami di Kalimantan. Sudah banyak yang berubah, tapi tidak dengan cinta ibuku pada hobinya. Beliau membuat toga juga dirumah barunya, dengan deretan sayur mayur di samping rumah barunya. Ibuku masih suka membagi hasil panen kepada para tetangganya. Ibuku

masih hebat seperti dulu, meski kita tak lagi dirumah yang sama. Masih kurekam jelas sekali pesan beliau, bahwa kita harus memampukan diri menjadi pribadi yang bermanfaat, setidaknya sebagai penghilang kebingungan tetangga membuatkan menu masakan untuk keluarganya. Ibu, bantu aku menemukan sebenarnya apa yang aku bisa, apa yang aku mau, dan apa hobiku; kegiatan positif yang tidak akan bosan untuk aku melakukannya meski sudah bertahun tahun, seperti hobimu.

Bulus, 02-04-2019


0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA LAINNYA

Mengenal Fathul Qariib

Mengenal Fathul Qariib

Setelah berkenalan dengan Imam Syafi'i, selanjutnya kita perlu terlebih dahulu mengenal kitab Fathul Qariib ini. Kitab Fathul Qariib ini merupakan karya dari seorang ulama kelahiran Ghuzah, Syam. Nama lengkap beliau adalah Assyaikh Al Imam Abi Abdillah Muhammad bin...

Sekilas Sejarah Pondok Pesantren Al-Iman Bulus

Sekilas Sejarah Pondok Pesantren Al-Iman Bulus

Era sebelum nama Al-Iman Pondok ini memiliki sejarah yangcukup panjang. Dahulu, sebelum bernama Al-Iman tempat ini adalah hutanbelantara yang terkenal sangat angker. Namun, pada tahun 1828 M, Mbah AhmadAlim, seorang yang terkenal alim yang kemudian melakukan babad...

Mengenal Sang Mujtahid Madzhab, Imam Syafi’i

Mengenal Sang Mujtahid Madzhab, Imam Syafi’i

  Sebelum memulai kajian kitab Fathul Qarib yang merupakan salah satu diantara kitab fundamental & fenomenal dalam Madzhab Syafi'i, alangkah baiknya kita mengenal terlebih dahulu sang muassis/pendiri madzhab ini. Mempelajari manaqib/biografi beliau merupakan...

" "